banner 728x250

Wayang Orang Lakon Arjuna Wiwaha Awali Pentas Seni Keraton Jawa

Iwan Gardiawan
banner 120x600
banner 325x300

Jakarta,Basiknews.com – Yayasan Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat Sukses Mengawali Pentas Pesona Kejayaan Seni Budaya Keraton Keraton Jawa

Yayasan Pawiyatan Kabudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat Sukses menggelar pergelaran wayang orang Arjuna Wiwaha di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman 9 Jul 2023 lalu.

banner 325x300

Pentas Pesona Kejayaan Seni Budaya Keraton-Keraton Jawa ini diselenggarakan Oleh Teater Wayang Indonesia (TWI) yang berada dibawah naungan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI)

Teater Wayang Indonesia (TWI)  merupakan tempat representative bagi para pelaku seni untuk menampilkan hasil karya seni pewayangan sehingga menjadi daya tarik wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

TWI dirintis oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia(SENAWANGI) sejak bulan Juli 2008 bekerjasama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), Gedung Pewayangan Kautamaan (GPK) dan Komunitas-Komonitas Wayang profesional dengan menampilkan secara berkala pergelaran wayang berkualitas dan popular di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautamaan, TMII Jakarta

Yayasan Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat didirikan oleh SISKS. Pakoe Boewono XIImelalui surat kekancingan SK nomor 576 tanggal 24 April 1956 sebagai wadah bagi kegiatan pelestarian kebudayaan Keraton Surakarta melalui penyelenggaraan kursus tari karawitan dan pedhalangan.

Dalam perkembangannya Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta restu dan ijin  SISKS Pakoeboewono XII, dibawah pengelolaan Dra. GRAy. Koes Moertiyah salah satu putri Pakoe Boewono XII menjadi badan yang berbentuk Yayasan berdasarkan akte pendirian notaris.

Dalam pergelaran pentas pesona kejayaan seni budaya Keraton Keraton Jawa kali ini, Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta Hadiningrat menampilkan fragmen wayang orang atau pethilan Arjunawiwaha dengan cerita sebagai berikut:

Di Kerajaan Imaimantaka Prabu Niwatakawaca sedang siniwaka dihadap oleh Patih Mamang murka dan prajurit bala raksasa dalam pasewakan tersebut Prabu Niwatakawaca sedang melampiaskan kegembiraannya setelah berhasil memperistri putri dari Kahyangan Dewi Prabasini dibalik kegembiraannya Prabu Niwatakawaca merasa gelisah karena Dewi Prabasini meminta agar Prabu Niwatakawaca mengambil Dewi Supraba (adik Dewi Prabasini) juga sebagai istrinya.

Sesungguhnya permintaan Dewi Prabasini hanyalah tipu daya agar Dewi Prabasini tidak jadi diperistri oleh Prabu Niwatakawaca karena pasti para Dewa tidak akan menyetujui Prabu Niwatakawaca mengambil juga Dewi Supraba menjadi istri Prabu Niwatakawaca.

Demi meloloskan permintaan istri yang sangat dicintainya akhirnya sang Prabu Niwatakawaca memerintahkan Patih Mamangmurka untuk pergi ke Kahyangan menghadap para Dewa untuk meminang Dewi Supraba

Bathara Guru setelah menerima laporan dari para dewa mengenai utusan Prabu Niwatakawaca segera mengutus Dewa Narada untuk menyampaikan penolakan atas permintaan meminang Dewi Supraba. Tidak terima ditolak permintaannya Patih Mamangmurka mengamuk dan terjadilah Peperangan antara bala tentara Denawa dengan para Dewa. Namun sayang para Dewa kewalahan menghadapi Patih Mamang murka. Dewa Narada akhirnya mengatakan beberapa tipudaya yang meyakinkan Patih Mamangmurka bahwa permintaan Raja dikabulkan bila waktunya tiba.

Prabu Niwatakawaca mendengarkan laporan Patih Mamangmurka, dan menyadari bahwa Mamangmurka telah diperdaya oleh Dewa Narada lalu memerintahkan Patih Mamangmurka untuk mencari Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Endrakila dengan bergelar Begawan Mintaraga untuk diminta membantu Prabu Niwatakawaca ketika menghadapi para Dewa.

Menurut perhitungan Prabu Niwatakawaca, para Dewa pasti akan meminta bantuan Raden Arjuna untuk menghalangi keinginan Prabu Niwatakawaca mempersunting Dewi Supraba.

Di Gunung Indrakila Raden Arjuna yang sedang bertapa mendapatkan gangguan dari para demit brekasakan, tetapi Raden Arjuna tak bergeming sama sekali sementara Batara Guru juga mengutus para Dewi dan Bidadari untuk menggoda dan menguji ketetapan hati Raden Arjuna dalam bertapa.

Raden Arjuna pun tidak terusik sama sekali dengan godaan para Dewi dan Bidadari setelah para Dewi kembali ke Kahyangan, Patih Mamang murka mendatangi Raden Arjuna yang sedang bertapa dan mengutarakan kemauannya. Raden Arjuna tidak menghiraukan perkata Patih Mamang lmurka, Patih Mamangmurka akhirnya marah dan mengamuk merusak pertapaan Endrakila.

Dengan merusak pertapaan, Patih Mamang murka, kena halad, Raden Arjuna dan berubah menjadi celeng atau babi hutan
Raden Arjuna berusaha membunuh celeng dengan panahnya tetapi ketika panah mengenai tubuh celeng dan membunuhnya, bersamaan itu juga ada panah lain yang mengenai tubuh celeng dari seorang Satria yang bernama Bambang Kertarupa.

Peperangan pun tak terelakkan untuk memperebutkan klaim pembunuh celeng. Ternyata Bambang kertarupa adalah Batara Guru yang menyamar untuk menguji Raden Arjuna Batara Guru menganugerahi pusaka panah Pasopati sekaligus dengan panah Pasopati tersebut Batara Guru mengutus Raden Arjuna untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca beserta bala tentaranya. Singkat cerita Raden Arjuna setelah berhasil mencuri Dewi Prabasini dan Dewi Supraba dari Prabu Niwatakawaca dan telah mengetahui kelemahan utama Jalan kematian Prabu niwatakawaca yang terletak di Pangkal mulut (Aji Gineng).

Akhirnya Raden Arjuna berhadapan langsung dengan Prabu Niwatakawaca. Perlu diketahui bahwa Dewi Supraba memang diselundupkan bersama Raden Arjuna di Istana Prabu Niwatakawaca untuk mengetahui kelemahan Prabu Niwatakawaca.

Perang tanding antara Raden Arjuna dan Prabu Niwatakawaca berlangsung sengit. Raden Arjuna mengambil siasat berpura-pura kalah jatuh terjerembab ke tanah. Di saat itu Prabu Niwatakawaca merasa menang dan berada diatas angin dengan tertawa keras dengan mulut yang menganga. Pada saat itulah Raden Arjuna segera melepaskan panah Kyai Pasopati yang melesat masuk ke mulut Prabu Niwatakawaca tepat mengenai pangkal mulutnya Prabu Niwatakawaca tewas di tangan Raden Arjuna.

Raden Arjuna melaporkan keberhasilan tugasnya kepada Batara Guru dan di hadapan para Dewa Raden Arjuna diwisuda dengan gelar Prabu Arjuna Wiwaha dan diberikan Tahta di Kerajaan Selakandha Waru Binangun.

Pergelaran Fragmen Wayang Orang Arjuna Wiwaha didukung ole 26 Pemain dan 21 Pengarawit, dengan sutradara KPH. Raditya Lintang Sasongko dan didampingi Official Dra.GKR. Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd dan Dr.KPH. Eddy S Wirabumi, SH. MM.

banner 800x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *